Mengenal dekat dengan Kang Bongkeng setelah terakhir kali datang ke Tasik, pada acara pelatihan navigasi yang diadakan oleh Forum Komunikasi Pecinta Alam Tasikmalaya (FKPAT) tahun 2007. Menurut catatan kami Kang Bongkeng hadir di Tasik hanya 3 kali, yaitu pertama pada Acara Perlombaan panjat dinding Se-priangan Timur yang diadakan oleh Zaradika pada tahun 2000, kedua pada acara pelatihan navigasi di gunung Syawal yang diadakan oleh FKPAT dan sekarang yang ketiga pada acara Temu Akrab Pecinta Alam (TAPA) se-JABAR yang diadakan oleh FKPAT dan dihadiri oleh hampir 200 peserta dari semua kalangan pecinta alam.

Tidak banyak yang berubah dari lelaki separuh baya ini, ketegaran dan kesigapan masih terlihat diantara kulitnya yang mulai memberikan garis - garis kontur tanda penuaan. Tetap gagah dan bersemangat tinggi. Kehadiran beliau memberikan suasana baru dikalangan para pecinta alam terutama para penggiat alam Tasikmalaya.

Pembicaraan bersama Kang Bongkeng berjalan dengan suasana penuh keakraban, beberapa hal yang perlu diperhatikan dan di sikapi oleh para pegiat alam menurut beliau adalah dalam hal melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan kepecinta alaman jangan terlalu mengharapkan bantuan dari pemerintah terutama yang berhubungan dengan finansial.Namun kita cukup meminta bantuan berupa fasilitas yang disediakan oleh pemerintah misalnya dari segi tempat atau transportasi yang dibantu oleh pemerintah. Karna kita ketahui bersama pemerintah dalam memberikan dana bantuan sangat terfilterisasi. Untuk mengakali hal tersebut para penggiat harus dapat menunjukkan diri kepada pemerintah setempat bahwa bagaimana penting ilmu kepecinta alaman terhadap beberapa instansi. Diumpamakan adalah instansi yang bergerak dalam bidang penanganan bencana ataupun para hansip – hansip yang diperbantukan di daerah. Namun sebenarnya pemerintah tidaklah sulit dalam mengeluarkan dana bantuan apabila segala yang dilakukan oleh para pecinta alam mempunyai tujuan dan misi visi yang jelas dalam kepemerintahan.

Diluar daripada itu juga Kang Bongkeng menyingkapi prilaku para pegiat alam terutama yang mengaku senior dalam bidang kepecinta alaman, tetapi mereka masih banyak yang mempertahankan sikap ORLA (Orde Lama) atau sifat ortodok mereka tanpa melihat keadaan dan perkembangan zaman saat ini. Banyak para penggiat alam dalam melaksanakan pendidikan dasar alam bebas menggunakan tradisi turun temurun dari para senior sebelumnya tanpa mengevaluasi akan dampak yang ditimbulkan.

Berikut beberapa pertanyaan yang kami lontarkan kepada kang Djukardi "Bongkeng" Adriana bersama suguhan makan siang agar memberikan suasana santai dan kekeluargaan.

Bagaimana menurut kang Bongkeng tentang para pecinta alam sekarang serta pelatihan dasar alam bebas?

Para pecinta alam sekarang entah senior ataupun junior selalu terjebak dengan kebiasaan turun temurun dalam memberikan materi kepecinta alaman tanpa memperhatikan perkembangan jaman. Dalam suatu kegiatan pelatihan perlu adanya TOT ( Training Of Trainer) terlebih dahulu agar apa yang akan disampai dan dipraktekkan menjadi satu kesatuan serta mempunyai visi dan misi yang jelas atar semua instruktur atau para penyelenggara kegiatan. Untuk diketahui juga saya bersama teman team EIGER juga selalu melakukan pertemuan minimal sebulan sekali melakukan TOT sambil mengevaluasi bagaimana cara penyampaian materi dan praktek yang terbaik bagi para pegiat alam.

Kenapa tidak menyusun buku aja tentang kepecinta alaman atau tentang catatan pendakian yang pernah dilakukan?

Dengan wajah berseri dan tersenyum Kang Bongkek menjawab dengan seksama bahwa “ saya inginnya membuat buku namun karna banyak kegiatan membuat saya tidak punya waktu untuk itu, itu alasan pertama sedangkan alasan kedua adalah saya masih sebagai pelaku dan saya senang itu, dan jika saya membuat buku tentang ilmu kepecinta alaman saya takut apa yang dibaca oleh para penggiat alam terutama pemula bisa salah mengartikan atau salah persepsi tentang apa yang mereka baca sehingga awalnya ingin dapat penambahan ilmu tapi saat di praktekkan mereka jadi tersesat. Saya lebih senang jika bertemu langsung dengan para penggiat alam dalam kegiatan-kegiatan pelatihan sehingga diktat – diktat yang saya berikan bisa langsung dipraktekkan bersama selain teori yang didapat.”;

Kang pernah tersesat tida, ketika melakukan ekspedisi atau dalam perjalanan hutan dan gunung?

Kang bongkeng menjawab : “ perkataan tersesat atau mengalami tersesat itu sering sekali saya alami, nah seperti itulah tersesat bukan hanya dialami para pemula, tapi orang-orang yang sering melakukan perjalanan hutan gunung akan sering mengalaminya dan itu adalah teori yang berharga. Saya sering tersesat namun saya dapat mengatasi hal tersebut dengan ilmu yang telah saya pelajari dan pengalaman yang ada sehingga saya dapat meminimalkan lebih banyak resiko ilmu navigasi dan survival itu yang perlu terus dikembangkan. Bahkan saya melatih kegiatan navigasi atau pun SAR saya selalu menyisipkan kejadian tersesat. Sehingga latihan tersebut akan lebih realistis dibanding kita terpaku kepada teori, seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya bahwa saya lebih senang terjun langsung dalam memberikan materi sehingga apabila tersesat kita sama-sama tersesat, dari metode tersebut akan lebih mudah menilai atau memasukkan bahkan mendril mereka dengan materi – materi kepecinta alaman dan itu lebih mengena. Ya intinya kalau tidak tersesat ya tidak serulah, tutup kang Bongkek dengan senyum penuh persahabatan.

 

Pertemuan pada siang itu kami menutupnya dengan hidangan makan siang berupa sop ikan gurame bersama lalap dan encok jantung pisang. Pertemuan siang itu memberikan bekas dan kenangan yang tidak terlupakan karna kami bertemu dengan kang Bongkeng dalam hitungan tahun. Mudah-mudahan selanjutnya kita dapat bersama lagi dengan kang Bongkeng...